Sumerti, Bukti Rumah Yatim Bali sebagai Islam Rahmatan lil alamin

sumerti

Nabi Muhammad adalah teladan yang luar biasa, dalam kisahnya beliau pernah menampung seorang bocah yahudi yang mengurusi keperluannya dalam hal-hal tertentu seperti air wudhu dan sandalnya, meskipun posisi yang diberikan kepada anak itu sangat dirindukan oleh sahabat yang lainya (Wahab 2015 : 61).

Perhatian nabi kepada sisi kemanusiaan dalam berinteraksi dengan non muslim menginspirasi Fajar Maulana, Kepala Cabang Rumah Yatim Bali pada saat ada anak yatim non muslim datang meminta bantuanya untuk pembiyaan sekolah anaknya.

Beliau adalah Ibu Sumerti, ibu dari 3 orang anak, yang sudah 4 tahun lamanya ditinggal oleh suaminya. Suaminya meninggal sebulan sebelum anaknya Muwani lahir kedunia dikarenakan sakit. Kini dia hidup dirumah peninggalan suaminya yang dulunya menjabat sebagai PNS. Kehidupan sehari-hari beliau hanya mengandalkan gaji pensiunan suaminya yang PNSnya golongan rendah. Namun untuk kebutuhan sekolah kedua anaknya beliau tidak mampu untuk menanggungnya.

Sekolah memang gratis, tapi di sekolah ada biaya buku, biaya komitte sekolah dan les anak masih nunggak, dan itu yang membuat saya keberatan.” Ujarnya.
Selain mengandalkan gaji itu beliau pun mencoba mengais rezeki dengan menjadi kuli bantu-bantu rumah tangga, itupun kalau ada yang membutuhkan tenaganya. “jika lagi banyak saya biasanya dapat 50 ribu/ 2 hari, tapi itu jarang sekali,
  imbuhnya.

Selain kuli bantu-bantu, apapun dia kerjakan untuk ke 3 buah hatinya sampai-sampai menjadi tukang ojeg dan membantu mempersiapkan untuk keperluan perayaan-perayaan. Dalam memperjuangkan sekolah anaknya dia pun berusaha meminta batuan kesana kemari termasuk daftar untuk kartu pintar namun ternyata semuanya tak mudah dia dapatkan.
saya sudah mendaftar kartu pintar tapi katanya sudah penuh. Ungkapnya

Saat berkunjung ke rumahnya Fajar Maulana Sidik pun membesarkan hatinya yang kala itu sedang kebingungan mengenai tunggakan sekolah anak-anaknya.  “Ibu ga usah banyak pikiran, pasti ada jalan keluarnya, semuanya kan dalam proses, Tuhan sudah punya rencana yang terbaik buat ibu dan anak-anak, terus dorong anak-anak untuk belajar.” Ujar Fajar yang sedang berusaha meminta bantuan untuknya.
Pertemuan Fajar dengan beliau adalah sejak baksos pada akhir bulan Februari 2016 ketika anak beliau yang bernama Sumerti dan Hari menjadi anak asuh non mukim, selanjutnya Rumah Yatim Bali pun memberikan bantuan berupa pendidikan anak-anaknya yakni bimbel gratis di gedung PPPA (Pusat Pengembangan Potensi Anak) Bali.
Sumerti dan Hari merupakan anak yang butuh perhatian dan kasih sayang di usia emasnya mereka harus kehilangan ayah tercintanya maka tak mudah bagi Fajar dan tim untuk mendidik mereka karena untuk prestasinya mereka masih di bawah rata-rata. Tapi Fajar dan tim tidak menyerah karena pada dasarnya semua anak itu cerdas termasuk mereka berdua. Meskipun begitu ada hal lain yang membanggakan dari mereka sejak diasuh oleh Rumah Yatim ada perubahan sikap yang positif dari keduanya.
Dari segi sikap berubah, lebih ramah lebih menghargai, kita pun lebih fokus kepada prestasi  dan etika. Imbuh Fajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s