Dedikasi Anak Asuh Rumah Yatim untuk Negeri

Hasil survei Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menyebutkan bahwa 65 persen umat Islam di Indonesia ternyata masih buta aksara Al-Qur’an. 35 persennya hanya bisa membaca Alquran saja. Sedangkan yang membaca dengan benar hanya 20 persen. Umat islam yang mayoritas tidak lantas membuat seluruh penganutnya mampu memahami ajaran agama islam dengan baik dan benar. Bisa kita lihat hasil survey yang dilakukan (IIQ) diatas sungguh menyedihkan, dengan jumlah yang mayoritas tersebut ternyata masih banyak sekali umat islam yang belum mampu membaca Al-Qur’an.

Persoalan tersebut membuat Yayan Supriatna R.S S.pd kepala sekolah SMAN 22 Bandung tergerak untuk membuat program pemberantas buta huruf Al-Qur’an untuk anak didiknya. Untuk itu ia mengajak Rumah Yatim area Jawa Barat untuk bekerja sama menyukseskan program tersebut, Rumah Yatim menerima ajakan tersebut dengan tangan terbuka.

Pada tanggal 25 -28 Juli 2016, Rumah Yatim menyerahkan anak asuh yang sudah lulus sekolah untuk terjun ke SMA untuk mengajari siswa/siswi disana. Selain untuk melatih kemampuan anak asuhnya, Rumah Yatim bermaksud untuk memandirikan mereka dan menambah pengalaman berharga kepada mereka.
Nurajizah, Ahmad Sandi, Asep Setiadi, Mira Nurfarida dan Fitri menjadi anak asuh terpilih untuk mengajar murid baru Baca Tulis Qur an (BTQ) dan tahfidz, walaupun mereka baru lulus tahun ini Rumah Yatim telah mempercayai kemampuan mereka.

Alhamdulillah seneng banget disuruh ngajar, jadi aku bisa sharing ilmu yang aku peroleh kepada mereka. Awalnya ngga pede tapi setelah berhadapan langsung dengan mereka tiba-tiba jadi pede, mungkin karena keinginan ngajar yang besar membuat rasa ngga pedenya hilang. tutur Nurajizah.

Menurut Nurajizah yang sering disapa Ajizah, dalam sehari ia mengajar di 3 kelas untuk satu kelasnya berjumlah 37 siswa, Ajizah dan teman-temannya diberi waktu 45 menit untuk mengajar perkelas. untuk hari pertama mengajar kita diberi waktu 90 menit alias 2 jam pelajaran, nah aku manfaatkan waktu lama tersebut untuk perkenalan, mengetes kemampuan mereka satu persatu dan setelah itu aku membuat perjanjian dengan mereka. Apabila ada siswa yang sudah lancar membacanya, maka mereka dilibatkan untuk mengajari temannya yang belum bisa, alhamdulillah mereka menyetujuinya. Untuk hafalan aku menggunakan metode muroja’ah bersama-sama, walaupun membutuhkan kesabaran tapi alhamdulillah metode tersebut dapat mempermudah hafalan mereka. Ujar Ajizah menambahkan.

Tak terasa 4 hari mengajar di SMAN 22 Bandung telah dilalui Ajizah dan ke empat temannya, berbagai pengalaman berharga telah mereka dapatkan disana.  pengalaman mengajar ini ngga akan aku lupain, sedih sekali karena berpisah dengan siswa dan guru disana, pengalaman yang paling berkesan untuku ketika siswa antusias setor hafalan di meja aku dan ketika siswa paling aktif disana meminta maaf berkali-kali saat hari terakhir mengajar. Ujar Ajizah.

Kedatangan Ajizah dan teman-temannya disambut baik guru dan murid disana, mereka sangat bangga dengan anak asuh Rumah Yatim ini. Wajar saja ketika hari terakhir mereka mengajar, para guru dan murid banyak yang merasa bersedih dan akan merasa kehilangan mereka. Bahkan banyak dari murid yang menawarkan Ajizah untuk menjadi guru privat mereka, dan pihak sekolah meminta tahun depan untuk mengajar murid baru lagi.

Terima kasih ka Ajizah telah mengajari kita ngaji, tajwid, tahfidz. Salut dengan ka Ajizah karena sabar dalam mengajar dan dapat mengendalikan kelas dengan baik, semoga ilmu yang diberikan bermanfaat. Semoga kita bisa bertemu kembali yaaa. Ujar salah satu siswa SMAN 22 BandungSMAN 22

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s