MENELADANI KESABARAN DARI PARA NABI

kisah nabi Ayub As

“Sungguh meakjubkan perkranya orang yang beriman karena segala urusanya adalah baik baginya. Dan, hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin : yaitu jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur, karena ia mengetahui bahwa itu terbaik untuknya. Dan, jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia mengetahui bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik bagi dirinya,” (HR Muslim)

Nabi Ayyub bin Ish bin Ishak as. adalah seorang nabi yang kaya raya. Tidak ada kekayaan orang di negeri Syam yang dapat menyaingi kekayaannya. Beliau memiliki istri bernama Siti Rahmah. Walaupun kaya, Nabi Ayyub sangatlah dermawan dan penuh kasih sayang dengan orang-orang yang kurang mampu. Beliau pun selalu bersyukur kepada Allah Swt atas apa yang diberikan kepadanya.
Nabi Ayyub memiliki kesabaran yang luar biasa. Sampai iblis pun merasa dengki dengan keimanan beliau. Iblis tidak ingin Nabi Ayyub masuk surga. Mereka meminta izin kepada Allah untuk menggoda Nabi Ayub. Akan tetapi tidak berhasil. Mendengar iblis menyalahkan Allah atas apa yang menimpanya, Nabi ayub hanya berkata : “Alhamdulillah, Allah yang memberikan dan Allah pula yang berhak mengambilnya. Anak dan harta adalah fitnah untukku maka Allah berbaik hati mengambil itu agar aku bisa beribadah dengan tenang kepada-Nya.”

Iblis semakin jengkel, ketika sujud, ditiupkannya penyakit kepada Nabi Ayyub. Seketika badan beliau menjadi berat karena dipenuhi penyakit kudis. Melihat keadaan Nabi Ayyub yang seluruh tubuhnya dipenuhi kudis yang bernanah dan mengeluarkan belatung, warga sekitar mengusir Nabi Ayyub dan istrinya Siti Rahmah keluar dari desa mereka. Siti Rahmah pun menggendong Nabi Ayyub pergi dari sana sambil menangis. Nabi Ayyub mengizinkan Siti Rahmah jika ingin meninggalkannya, namun Siti Rahmah berkata, “Sungguh aku tidak akan pernah meninggalkanmu wahai suamiku.” Untuk menyambung hidup, Siti Rahmah pun bekerja menjadi tukang potong roti. Dengan cara itu, ia bisa memberi makan suaminya. Namun tidak beselang lama, tuannya mengetahui jika Siti Rahmah memiliki suami yang penuh dengan penyakit kudis. Karena jijik, maka Siti Rahmah pun tidak diperkenankan bekerja pada mereka lagi.

Siti Rahmah pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Engkau telah melihat bagaimana orang-orang mengusir kami. Maka tolong janganlah Engkau usir kami dari rumah-Mu di akhirat nanti.”
Keadaan Nabi Ayyub tidak bertambah baik, kudis dan belatung semakin banyak bermunculan. Namun, ketika ada belatung yang jatuh, beliau pun meletakkannya kembali ke badannya, sembari berkata, “Makanlah, ini rezeki Allah yang diberikan padamu.” Berpuluh-puluh tahun Nabi Ayyub menderita sakit kudis itu, sampai habis daging di badannya. Tinggal tulang dan organ inti yang membuatnya masih hidup. Dengan keadaan seperti itu, hati dan lisan beliau tidak pernah berhenti berdzikir kepada Allah, mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya.

Siti Rahmah saat itu berkata pada suaminya, “Wahai suamiku, engkau adalah seorang nabi. Mintalah kepada Allah untuk megangkat penyakitmu.”
Lalu Nabi Ayyub berkata, “Sungguh malu aku pada Allah karena apa yang Allah berikan padaku ini tidak lebih lama dari nikmat kesenangan yang dulu pernah aku nikmati.”

Belatung-beatung di tubuh Nabi Ayyub sudah tidak bisa menemukan daging yang bisa dimakan. Akhirnya mereka saling memakan. Sampai tertinggal dua belatung. Karena yang tersisa pada Tubuh Nabi Ayyub hanyalah hati dan lidah, maka belatung itu berusaha memakan hati dan lidah Nabi Ayyub. Melihat hal itu, Nabi Ayyub pun  berdoa dan berkata, ”Ya Allah, Sesungguhnya aku akan ditimpa bahaya yang besar, sedang Engkau lah Dzat yang Maha Pengasih.”
Adapun yang menimpanya, Nabi Ayyub senantiasa bersabar karena beliau masih memiliki hati dan lisan yang  beliau gunakan untuk berdzikir kepada Allah. Beliau pun takut jika hati dan lisannya telah rusak maka beliau tidak bisa lagi mengungkapkan kecintaannya kepada Allah.

Saat itu, datanglah malaikat Jibril dengan membawa buah dari syurga seraya berkata, “Allah mengirimkan salam kepadamu dan menyuruhmu memakan buah ini, maka niscaya akan kamu dapatkan kembali tubuhmu.”

Nabi Ayyub pun memakan buah itu. Malaikat Jibril pun berkata, “Berdirilah, dan berjalanlah dengan kakimu.”

Dari pijakan kaki kanan Nabi Ayyub, keluarlah air hangat yang beliau gunakan untuk mandi. Sementara dari kaki kiri keluar air dingin yang beliau gunakan untuk minum. Sejak saat itu hilanglah penyakit Nabi Ayyub dan tubuhnya kembali tegap dan gagah.

#RyLebihDekat
http://www.rumah-yatim.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s