MIMPI RIO TAK PERNAH TERKUBUR

#‎RyJuara
Tak ada waktu untuk berleha-leha atau sekedar bermain menghabiskan waktu, bagi anak kelahiran kuningan 18 Oktober 1996 ini belajar adalah hal yang paling utama, kegagalannya untuk bersekolah seusai SMP mengajarkanya betapa penting arti sekolah, Rio Hidayat merupakan anak Rumah Yatim Tegal yang rajin dan berkemauan keras.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Hal inipun diakui oleh kepala asramanya yakni Syafrudin yang mengetahui betul perkembangan Rio setiap harinya. “ Rio anaknya rajin dan senang belajar” ungkap Syafrudin.

Kesukaannya terhadap belajar tidak terlepas dari masa kecilnya yang penuh dengan perjuangan, Rio dibesarkan dari keluarga yang tidak mampu ibunya yang biasa dia panggil emak hanya buruh tani sedangkan bapaknya seorang kuli bangunan, terkadang jika tak ada panggilan kerja terpaksa bapaknya juga ikut menjadi buruh tani. Maka dengan latar belakang tersebut pupuslah harapan Rio untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, saat lulus SMP dia pun terpaksa harus ikut menjadi kuli bangunan bersama bapaknya dan melepas impiannya untuk sekolah di SMA.

Si kecil Rio harus bergulat dengan debu dan panasnya matahari, badannya kecil berubah menjadi kasar karena setiap harinya dia harus mengaduk cement dan pasir ditambah mengangkut barang-barang yang besar melebihi dirinya. Ditengah kerasnya kehidupan mimpinya tak pernah pupus dia terus berharap kelak dia bisa melanjutkan sekolah meski harapan itu lebih tipis dari kain koko yang dia kenakan saat dia menghadap sang kholik untuk sholat.

Setahun sudah dia putus sekolah dan mengganti statusnya menjadi kuli, waktu yang terasa panjang itu mengantarkanya pada kerinduan untuk bertemu emak, Rio pun pulang ke Kuningan. Kepulanganya tak hanya mengobati rindunya tapi juga membawa perubahan besar dalam hidupnya, seorang lelaki berperawakan jangkung dengan kulit sawo matang datang menemuinya dan menawarkanya untuk bersekolah lagi. Rio tidak pernah percaya apa yang dia dengar semuanya terasa mimpi, Darwan nama orang itu dia bekerja di Rumah Yatim Tegal, Darwan mendengar dari para tentangganya bahwa Rio seorang anak yang baik selalu berprestasi di sekolahnya harus putus sekolah maka hatinya pun tergerak untuk membawa Rio bersamanya. Tanpa pertimbangan apa pun Rio memutuskan mengikuti Darwan yang kala itu menjadi Abi asramanya.

“kesempatan hanya datang sekali” ungkap Rio dengan tekad bulat sembari menatap emak yang kian hari kian keriput, emak pun berujar dengan bijak

“Yo sakola sing bener nya, tong loba hereuy ameh sukses” ujar Emak dalam bahasa sunda meminta Rio untuk sekolah dengan sungguh-sungguh.

Kata-kata emak dan kepercayaan emak kepadanya mengantarkan Rio menjadi pribadinya yang sekarang, selalu rajin dan tak pernah menyia-nyiakan waktu begitu saja.

Prestasi pun diraih
3 tahun sudah Rio menjadi anak asuh Rumah Yatim, selama 3 tahun tersebut Rio sudah membuktikan dirinya untuk selalu bersungguh-sungguh. Selain belajar di Sekolah SMK Dinamika Kota tegal dia pun belajar agama di Asrama dengan Abi Syafrudin. Tak hanya belajar dia pun selalu mempraktekan ilmu yang dia dapatkan, di Sekolah guru-guru selalu mempercayakanya untuk menginstalasi listrik sekolah, terkadang dia pun menjadapatakan job yang sama dari perusahaan atau dari teman gurunya.

Melihat rajinnya Rio dan kemahiran Rio dalam listrik mengantarkan Rio menjadi kandidat satu-satunya untuk mewakili sekolah dalam ajang lomba listrik control antar SMK se-kota Tegal. Ada lima sekolah yang mengikuti lomba yang diadakan dinas pendidikan kota Tegal tersebut, persiapan yang diberikan panitia pada Rio hanya 2 minggu untuk mempelajari komponen-komponen listrik dan merangikanya.

Lomba pun di mulai pada bulan Oktober, Rio presentasi dihadapan para juri, rasa nervous yang dia miliki dia hilangkan dengan pulpen yang dia pegang.

“entah kenapa kalau sudah memegang pulpen demam panggung saya hilang” ujar Rio yang suaranya makin medok jawa.

Rio tak pernah berambisi untuk menang karena saingan yang dia hadapi pun cukup hebat-hebat, tapi Allah berkehendak lain, kerja kerasnya membuahkan hasil dia pun mejadi juara ke II Wiring control.

“rasanya senang campur bangga dan ngak menyangka, saya merasa saya biasa-biasa aja” ujar Rio rendah hati.

Ya Rio sudah membuktikan dirinya, diakhir masa SMKnya dia bisa menjadi seorang juara, diabuktikan bahwa mimpi seorang anak tak boleh terputus hanya karena ketidakmampuan, mungkin masih banyak anak-anak diluar sana yang bisa jauh lebih berprestasi darinya tapi karena kelemahan dan ketidakadaan biaya untuk bersekolah harus putus sekolah dan mengubur cita-citanya.

Tak seperti Rio, dia tak pernah mengubur mimpinya, dia terus berjuang untuk mimpinya.

“saya ingin membuat emak bangga, insya Allah saya ingin melanjutkan kuliah ke ITB, Undip atau Unpad” katanya dengan semangat.

‪#‎RyLebihDekat‬ ‪#‎LebihBermanfaat‬
Mari Bersama Kita Wujudkan Cita-Cita Mereka.
www.rumah-yatim.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s